Minggu, 11 Oktober 2015

Pengalaman FGD ODP BNI Syariah


Hai temen-temen semua!!! Kali ini aku mau share pengalamanku ikut tes FGD untuk ODP BNI Syariah Batch 4. Awal daftar ODP ini melalui Jobfair UI sekitar tanggal 16,17,18 September. Kemudian, pengumuman lolos ke tahapan FGD tanggal 5 Oktober. FGDnya sendiri diadakan tanggal 8-10 Oktober di HO BNI Syariah Kuningan. Sebelumnya, aku mau cerita dulu yaa. Jadi, aku ini kan sebenernya lulusan sastra tapi pengen banget kerja yang berhubungan dengan syariah terutama bank. Nggak nyambung banget, ya? Iya emang, tapi aku berpendapat bahwa suatu perusahaan itu butuh orang-orang dari berbagai bidang supaya perusahaan itu bisa berkembang dan tidak hanya lihat permasalahan dari satu sudut pandang aja. Aku pengen banget sebenernya daftar mandiri syariah karena ibu angkatku orang mandiri hehe terus tabunganku emang mandiri. Tapiiiiii mandiri syariah nggak menerima jurusan sastra!!! *maunangisdipojokan* Pas di jobfair itu aku sedih banget *lebay*. Yaudah deh akhirnya pindah ke booth sebelahnya, yaitu booth BNI Syariah. Disana ada mbak-mbak penjaga booth yang menjelaskan apa aja kegiatan ODP dan aku tanya jurusan sastra bisa kan Mba? Bisa. Dalam hatiku langsung teriak, „Yes, alhamdulillah ya Allah masih ada yang peduli sama jurusan sastra haha.“ Daftarlah aku disitu, cukup isi biodata aja sama pengalaman organisasi lewat googleform. Karena di booth penuh, si mbak yang jelasin tadi bilang ke aku kalau kita bisa buka lin yang ada di brosur mereka dari rumah atau dari handphone. Yaudah deh cus aku daftar di rumah aja abis dari jobfair hihi. Setelah jobfair itu, aku sih yaa ga banyak mikirin. Eh ternyata aku di sms kalau lolos ke tahap FGD. Yeah, alhamdulillah seneng banget!!

Setelah itu, kita disuruh konfirm kehadiran lewat googleform juga. Aku kebagian hari sabtu, tanggal 10 Oktober. Cuma disuruh bawa ktp asli, fotocopy ktp dan fotocopy ijazah. Karena ini pengalaman pertamaku, ya aku nggak punya bayangan apa-apa tuh FGD kayak gimana. Kata temenku, cuma kayak diskusi biasa kok. Okelah kalau begitu aku cukup tenang walaupun was-was juga. Aku sebenernya tipe orang yang susah ngeluarin pendapat apalagi kalau sama orang baru. Tapi aku bertekad dateng untuk ngerasain gimana sih FGD itu. Aku juga sempet cari-cari juga lewat internet FGD itu kayak gimana jadi udah punya gambaran sedikit lah.
Pas hari H, datanglah aku ke HO BNI Syariah di Kuningan naik angkutan paing trend abad ini di Indonesia Go-Jek *apasih*. Pas disana udah banyak orang, kayaknya mereka baru keluar gitu. Entah kenapa, aku nggak kenal satupun ahahaha padahal ya anak UI aku yakin pasti banyak juga yang daftar ini ODP. Pas masuk akhirnya aku ketemu anak IPB, baru juga kenalan sampe nanya dari universitas mana, eh udah masuk registrasi. Jadwalku kan jam11 tapi ternyata disana itu siapa cepat dia dapat. Waktu itu masih jam setengah 11 tapi langsung disuruh masuk ke ruangan FGD (kayak ruangan rapat gitu). Disana ada seorang bapak yang udah nunggu di dalem ruangan dan menyambut kita. Lingkungannya Islami banget, seneng ngeliatnya. Begitu masuk langsung musholla atau tempat sholat gitu yang ukurannya lumayan besar. Aku pengen banget kerja di lingkungan gini nih. Aamiin ya Allah.

Begitu semua udah masuk, waktu itu peserta FGD di ruanganku 5 orang. Bapak yang tadi menyambut kita itu memperkenalkan diri. Namanya Pak Firman. Beliau mengucapkan salam dan selamat untuk kita karena sudah sampai ke tahap ini *ya baru juga tahap 2 pak*. Kemudian, beliau menjelaskan kalau tahun 2015 ini adalah batch 4 ODP BNI Syariah. Batch 4 ini akan berbeda dari 3 batch sebelumnya karena  main goal dari ODP ini bukan hanya jadi credit analyst tapi bisa jadi officer bank di bidang lainnya juga. Oke, gw seneng dengernya karena banyak kemungkinan mereka butuh orang dari berbagai background pendidikan dong ya hehe. Kalau lolos seleksi nantinya akan ditempatkan di Head Office BNI Syariah seluruh Indonesia dan juga 1 cabang di Hongkong. Wihiy! Pak Firman kemudian menjelaskan rangkaian seleksi ODP, yaitu seleksi administrasi, FGD, psikotes, interview user, interview direksi dan terakhir medical check up. Aku langsung mikir, kok ga pake tes bahasa inggris???? Kemudian, Pak Firman jelasin lagi, FGD ini dilakukan dalam bahasa Inggris. Jedeeeeeeerrrrrr maknyus deh rasanya hhahahahaha. Pantesan aja nggak ada tes bahasa Inggris, soalnya FGDnya udah in english  *lambaikan tangan ke kamera*. Selama kuliah sastra jerman, bahasa Inggris aku kasihan banget huhu. Udah gitu pas pengumuman lolos FGD ga ada bilang pake bahasa inggris. Kalau ada kan ya paling nggak nyiapain ungkapan-ungkapan yang biasa dalam diskusi. Akhirnya, aku pakai bahasa inggris seadanya deh. Ohya, topik diskusi terserah kita mau diskusiin apa. Tapi menurutku sih jadi kurang seru kalau topiknya terserah haha dan kelompok FGDku milih topiknya cenderung yang kurang bisa dikembangin diskusinya atau emang karena kita yang ga bisa kembangin haha. Yasudahlah ya. Aku cenderung pasif juga disana karena selain terhambat sama bahasa inggris, ada beberapa orang yang memang suka „nyerocos“ jadi aku ngerasa diskusi kita ga terarah dan hasil dari diskusi kita itu jadi ngambang.

Well, nasi telah menjadi bubur. Itu pengalaman pertamaku FGD di seleksi ODP BNI Syariah tahun 2015. Awalnya kecewa karena nggak nyiapin apapun haha tapi aku bersyukur karena diberi kesempatan untuk ngerasain FGD itu seperti apa. Pengumuman FGD tangal 23 Oktober. Aku cuma bisa berdoa diberikan yang terbaik sama Allah. Lolos atau nggak, bukan masalah karena dari FGD ini aku belajar dan juga aku sadar kalau harus ngasah kemampuan komunikasi dan bahasa inggrisku lagi.

Bagi kalian yang mau ODP BNI Syariah, yuk mari sama-sama belajar lagi.

Salam hangat,

Kiki

Senin, 02 Februari 2015

PRAGMATIK

Apakah Pragmatik itu? Untuk mengkaji pragmatik di dalam bahasa tertentu, kita perlu memahami budaya masyarakat pengguna bahasa tersebut. Secara singkat dapat dikatakan bahwa pragmatik mengkaji makna yang dipengaruhi oleh hal-hal di luar bahasa, salah satunya adalah konteks.

Interaksi dan Sopan Santun
Untuk mengetahui apa yang terjadi di dalam sebuah percakapan, kita perlu mengetahui siapa saja yang terlibat di dalamnya, bagaimana hubungan dan jarak sosial di antara mereka, atau status relatif di antara mereka. Sebuah interaksi sosial akan terjalin dengan baik jika ada syarat-syarat tertentu terpenuhi, salah satunya adalah kesadaran akan bentuk sopan santun. Salah satu penanda sopan santun adalah penggunaan bentuk pronominal tertentu dalam percakapan. Di dalam bahasa Indonesia kita jumpai Anda dan beliau untuk menghormati orang yang diajak bicara. Bentuk lain dari sopan santun adalah pengungkapan suatu hal dengan cara tidak langsung. Contoh ketidaklangsungan dalam sebuah percakapan bisa dilihat dalam penggalan dialog berikut ini.
A: Hari ini ada acara?
B: Kenapa?
A: Kita makan-makan, yuk!
B: Wah, terimakasih, deh. Saya sedang banyak tugas!
Di dalam penggalan dialog di atas, B secara tidak langsung menolak ajakan A untuk makan. Walaupun B sama sekali tidak mengatakan kata tidak, tetapi A akan mengerti bahwa apa yang diucapkan B adalah sebuah penolakan. Kata terima kasih yang diungkapkan oleh B bukanlah bentuk penghargaan terhadap suatu pemberian, tetapi sebagai bentuk penolakan halus. Ketidaklangsungan sering ditemukan dalam bentuk pra-urutan (pre-sequences). Selain itu, salah satu bentuk ketidaklangsungan dapat juga ditemukan di dalam maksud yang tersirat di dalam suatu ujaran. Di dalam hal ini, ketidaklangsungan mensyaratkan kemampuan seseorang untuk menangkap maksud yang tersirat, misalnya menanggapi sebuah kalimat yang diujarkan orang lain sebagai sebuah perintah.

Implikatur Percakapan 
Di dalam sebuah percakapan, seorang pembicara pasti mempunyai maksud tertentu ketika mengujarkan sesuatu. Maksud yang terkandung di dalam ujaran itu disebut implikatur. Selain itu, ada pula yang disebut dengan prinsip kerja sama. Pembicara dalam suatu percakapan harus berusaha agar apa yang dikatakannya relevan dengan situasi di dalam percakapan itu, jelas dan mudah dipahami oleh pendengarnya. Kaidah-kaidah tersebut ada dan harus ditaati oleh pembicara agar percakapan dapat berjalan lancar.
(a)      Maksim kuantitas
Berdasarkan maksim ini, dalam percakapan penutur harus memberikan kontribusi yang secukupnya kepada mitra tutur.
Contoh: 1. Anak gadis saya sekarang sudah punya pacar.
              2. Anak gadis saya yang perempuan sudah punya pacar.
Di dalam kalimat (2) kata gadis sudah mencakup makna ‘perempuan’ sehingga kata permpuan dalam kalimat tersebut memberikan kontribusi yang berlebih. Selain itu, maksim ini juga dipenuhi oleh apa yang disebut pembatas (hedge), yang menunjukkan keterbatasan penutur dalam mengungkapkan informasi. Hal ini dapat dilihat dalam ungkapan di awal kalimat seperti singkatnya, dengan kata lain, kalau boleh dikatakan, dan sebagainya.
(b)     Maksim kualitas
Berdasarkan maksim kualitas, peserta percakapan harus mengatakan hal yang sebenarnya. Kadang kala, penutur tidak merasa yakin dengan apa yang diinformasikannya. Akan tetapi, ada cara untuk mengungkapkan keraguan seperti itu tanpa harus menyalahi maksim kualitas. Pemenuhan maksim ini juga sama dengan maksim kuantitas yang menggunakan ungkapan-ungkapan tertentu seperti setahu saya, kalau tidak salah dengar, katanya, dan sebagainya.
(c)     Maksim relevansi
Berdasarkan maksim relevansi, setiap peserta percakapan memberikan kontribusi yang relevan dengan situasi pembicaraan. Topic-topik yang berbeda di dalam sebuah percakapan dapat menjadi relevan jika mempunyai kaitan. Di dalam hubungannya dengan maksim relevansi, kaitan ini dapat dilihat sebagai pembatas. Ungkapan-ungkapan di awal kalimat seperti ngomong-ngomong…., sambil lalu…., atau by the way…. merupakan pembatas yang memenuhi maksim relevansi.
(d)     Maksim cara
Berdasarkan maksim cara, setiap peserta percakapan harus berbicara langsung dan lugas serta tidak berlebihan. Di dalam maksim ini, seorang penutur juga harus menafsirkan kata-kata yang dipergunakan mitra tuturnya berdasarkan konteks pemakaiannya. Untuk memenuhi maksim cara, adakalanya kelugasan tidak selalu bermanfaat di dalam interaksi verbal. Sebagai pembatas maksim cara, pembicara dapat menyatakan ungkapan seperti Bagaiamana kalau ..., Menurut saya ... dan sebagainya.


Pelanggaran terhadap Maksim Percakapan 
Pelanggaran terhadap maksim percakapan akan menimbulkan kesan janggal. Kejanggalan itu dapat terjadi jika informasi yang diberikan berlebihan, tidak benar, tidak relevan atau berbelit-belit. Kejanggalan inilah yang biasanya dimanfaatkan di dalam humor.
Ada berbagai bentuk pelanggaran di dalam maksim-maksim percakapan. Tentu kita pernah mengalami situasi yang janggal karena ada pembicara yang bertele-tele menyampaikan maksudnya, ada kesalahpahaman, ketidaksinkronan, dan sebagainya. Pengetahuan kita mengenai maksim-maksim di atas akan sangat membantu kita dalam memahami situasi yang janggal tersebut.

     Pertuturan 
   Mengucapkan janji, menyatakan sesuatu, memperingatkan orang lain atau mengancam merupakan bagian dari pertuturan (speech act). Pertuturan adalah seluruh komponen bahasa dan dpercakapan, bentuk penyampaian amanat, topik, dan konteks amanat itu. Di dalam pertuturan ada tiga jenis pertuturan, yaitu : 
  1. Pertututan Lokusioner adalah dasar tindakan dalam suatu ujaran atau pengungkapan bahasa (kalimat); 
  2. Pertuturan Ilokusioner adalah tindakan atau maksud yang menyertai ujaran dalam pengungkapan bahasa tersebut; 
  3. Pertuturan Perlokusioner adalah pengaruh dari pertuturan ilokusioner dan lokusioner tersebut. Contoh: Saya berjanji tidak akan mengulangi perbuatan itu. 
         Kalimat di atas merupakan pertuturan lokusioner. Tujuan dari kalimat tersebut – mengungkapkan janji seseorang yang menyebut dirinya saya untuk tidak melakukan suatu perbuatan tertentu – adalah pertuturan ilokusionernya. Adapun pengaruh dari kalimat tersebut – perubahan yang dijanjikan oleh orang itu – merupakan pertuturan perlokusionernya.

Pertuturan ilokusioner bertujuan menghasilkan ujaran yang dikenal dengan daya ilokusi ujaran. Dengan daya ilokusi, seorang penutur menyampaikan amanatnya di dalam percakapan, kemudian amanat itu dipahami atau ditanggapi oleh pendengar. Daya ilokusi ini biasanya diungkapkan dengan sejumlah verba yang disebut dengan verba performatif.

Berdasarkan tujuannya, pertuturan dapat dikelompokkan seperti berikut ini:
  1. Asertif, yang melibatkan penutur kepada kebenaran atau kecocokan proposisi, misalnya menyatakan, menyarankan, dan melaporkan;
  2. Direktif, yang tujuannya adalah tanggappan berupa tindakan dari mitra tutur, misalnya menyuruh, memerintahkan, meminta, memohon, dan mengingatkan;
  3. Komisif, yang melibatkan penutur dengan tindakan atau akibat selanjutnya, misalnya berjanji, bersumpah, dan mengancam; 
  4. Ekspresif, yang memperlihatkan sikap penutur pada keadaan tertentu, misalnya berterima kasih, mengucapkan selamat, memuji, menyalahkan, memaafkan, dan meminta maaf; 
  5. Deklaratif, yang menunjukkan perubahan (selamanya) setelah diujarkan, misalnya membaptiskan, menceraikan (secara Islam), menikahkan, dan menyatakan.
Deiksis 
Deiksis adalah cara merujuk pada suatu hal yang berkaitan erat dengan konteks penutur. Ada rujukan yang berasal dari penutur, dekat dengan penutur dan jauh dari penutur. Ada tiga jenis deiksis, yaitu deiksis ruang, deiksis persona dan deiksis waktu. Ketiga jenis deiksis ini bergantung pada interpretasi penutur dan mitra tutur yang berada dalam konteks yang sama.

Deiksis Ruang
Deiksis ruang berkaitan dengan lokasi relatif penutur dan mitra tutur yang terlibat di dalam interaksi. Di dalam bahasa Indonesia, misalnya, kita mengenal di sini, di situ dan ini untuk merujuk kepada sesuatuu yang kelihatan atau jaraknya terjangkau oleh penutur. Selain itu, ada kata seperti di sana dan itu yang merujuk pada sesuatu yang jauh atau tidak kelihatan atau jaraknya tidak terjangkau oleh penutur.

Deiksis Persona
Deiksis persona dapat dilihat pada bentuk-bentuk pronomina. Bentuk-bentuk pronominal  itu sendiri dibedakan atas pronominal orang pertama, pronominal orang kedua dan pronominal orang ketiga. Di dalam bahasa Indonesia, bentuk ini masih dibedakan atas bentuk tunggal dan bentuk jamak sebagai berikut.

Tunggal
Jamak
Orang Pertama
aku, saya
kami, kita
Orang Kedua
(eng)kau, kamu, Anda
kamu (semua), Anda (semua), kalian
Orang Ketiga
Ia, dia, beliau
mereka

Deiksis Waktu
Deiksis waktu berkaitan dengan waktu relative penutur atau penulis dan mitra tutur atau pembaca. Pengungkapan waktu di dalam setiap bahasa berbeda-beda. Ada yang mengungkapkannya secara leksikal, yaitu dengan kata tertentu.
Bahasa Indonesia mengungkapkan waktu dengan sekarang untuk waktu kini, tadi dan dulu untuk waktu lampau, nanti untuk waktu yang akan datang. Hari ini, kemarin dan besok juga merupakan hal yang relatif, dilihat dari kapan suatu ujaran diucapkan.
Di dalam bahasa Inggris dan Jerman, pengungkapan waktu didukung di dalam verbanya, yaitu di dalam tense. Verba pada kalimat dengan kata bantunya menunjukkan referensi yang berpindah-pindah, bergantung dari kapan kalimat-kalimat itu diucapkan.

Penutup
Pragmatik berhubungan dengan pemahaman kita terhadap hal-hal di luar bahasa. Akan tetapi, hal-hal yang dibicarakan di dalam pragmatik sangat erat pula kaitannya dengan hal-hal di dalam bahasa. Di dalam pragmatik, suatu interaksi verbal akan menjadi janggal jika pembicara dan lawan bicara tidak mengungkapkan ha yang selaras atau sesuai konteks. Pragmatik berkaitan dengan konteks yang dibahas dalam Wacana dan juga dengan makna yang dibahas dalam Semantik.

Sumber :
Kushartanti. 2009. Pesona Bahasa: Langkah Awal Memahami Linguistik.  Jakarta: Gramedia Pustaka Utama

Selasa, 06 Januari 2015

LOVE IN THE BUS

anime bus ride love
Aku disini berusaha mencerna apa yang sedang terjadi di hidupku. Bagaikan pungguk menrindukan bulan, aku mengaguminya. Perkenalkan, namaku Aisha Farhana. Kalian bisa memanggilku Aisha. Ya, seperti banyak cerita sebelumnya, aku adalah seorang gadis miskin yang jatuh cinta dengan seorang pangeran yang tampan. Dari situlah cerita ini dimulai.

Aku selalu mendapat juara kelas ketika bersekolah. Aku menjadi kebanggaan ayah dan ibuku. Aku bercita-cita untuk membahagiakan mereka. Tentu saja, membawa mereka keluar dari kemiskinan. Mereka pun menaruh harapan besar padaku. Aku selalu semangat belajar dan menjadi yang terbaik di kelas.

Sampai suatu ketika, aku jatuh cinta. Aku tak pernah berpikir bisa jatuh cinta. Disini. Di tempat ini. Di sekolahku. Aku selalu berpikir bahwa disini mereka semua sama. Ya, teman-temanku. Mereka hanyalah anak orang kaya yang tidak bisa masuk sekolah favorit di daerah kami dan harus berakhir disini. Memalukan.

Tapi aku melihat satu sosok berbeda. Tidak! Awalnya, aku berpikir bahwa orang itu bukan murid di sekolah kami. Di bus. Itulah tempat pertama kalinya aku menyadari keberadaan orang itu, orang yang berada di pikiranku hingga kini. Orang itu naik bus yang sama denganku. Tapi dari jalan yang berbeda. Maka dari itu, aku menyangka kalau orang itu bukan murid di sekolah kami.

Sampai suatu hari dimana kami naik bus yang sama lagi, aku baru menyadari kalau orang itu memakai seragam yang sama denganku. Seragam dengan bordiran nama sekolah kami di kantung saku sebelah kiri. Waktu itu, jantungku rasanya ingin sekali copot. Napasku rasanya sesak. Tapi aku tidak sanggup menengok ke arahnya lagi. Tidak bisa! Aku berusaha mengontrol perasaanku sendiri untuk tidak melonjak kegirangan atau menangis sejadi-jadinya.

Sejak saat itu, aku ingin selalu cepat pulang dari sekolah. Aku menunggu kesempatan untuk dapat melihatnya di bus. Di jalan itu. Ya, ia selalu naik dari jalan yang sama. Kalau bus kami berhenti di jalan itu, betapa bahagianya aku karena sosok yang ku tunggu-tunggu datang. Merasakan kehadirannya saja sudah menjadi anugerah terindah bagiku. Belum pernah rasanya aku sebahagia ini. Rasanya sungguh berbeda dengan kebahagiaanku ketika menjadi juara kelas setiap tahunnya.

Hari demi hari ku jalani. Tiba saatnya kenaikan kelas. Fokus ujian nasional dan ujian masuk perguruan tinggi adalah hal yang paling utama bagi para siswa. Tetapi tidak bagiku. Aku malah merasa muak dengan semua pelajaran di sekolah. Walaupun begitu, aku tetap menjadi anak kebanggaan ayah dan ibu. Aku berusaha menjaga prestasiku, meskipun aku banyak mencuri waktu belajarku untuk memikirkan orang itu.

Di tahun terakhir ini, aku semakin sering melihatnya. Ternyata, orang itu satu angkatan denganku. Anak IPS. Saat itulah aku melupakan semua stereotype yang sudah tertanam di pikiranku sebelumnya. Di mataku, orang itu begitu sempurna. Bahkan, walaupun aku belum mengenalnya sama sekali. Aku belum pernah berbicara dengannya sekali pun. Pernah suatu ketika aku mendengar suaranya saat ia lewat di hadapanku, tapi hanya sepintas dan aku tidak bisa mengingatnya.

Aku pun mulai bercerita mengenai apa yang terjadi di hidupku ini pada sahabatku. Guess, what? Sahabatku mengenalnya!!!! Dulu ketika kelas X, sahabatku dan orang itu berada di kelas yang sama. Kalian pasti tahu apa yang selanjutnya terjadi. Yap! Aku jadi tahu namanya, sedikit gambaran perilakunya, sedikit ceritanya dan sedikit yang lain lagi. Terimakasih sahabatku, berkat dirimu aku masih stuck disini memikirkannya. Awalnya, aku berniat untuk membatasi kekagumanku pada orang itu dengan hanya melihatnya dari jauh, tidak lebih. Aku tidak mau mengetahui namanya apalagi cerita-ceritanya. Aku takut. Ya, aku takut patah hati. Tapi nasi telah menjadi bubur. Aku tidak mau menyia-nyiakan kesempatan ini. Berbekal nama lengkapnya, aku mulai mencari tahu sendiri informasi tentang orang itu lewat internet. Pertama kali situs yang aku kunjungi adalah yaaaa tepuk tangan buat kalian. FACEBOOK. I found it! So easy! Ku temukan akun facebooknya, dan tadaaaaaa tanggal lahirnya berdekatan dengan tanggal lahirku. Aku tidak tahu harus senang atau sedih, tapi aku merasa bahagia. Hehe..

Di tahun ketiga kami, posisi kelas tiga berada di lantai atas. Orang itu. Hanya dengan melihat orang itu di balkon, hariku terasa sangat indah. Posisi kelas kami yang membentuk segitiga siku-siku memudahkanku melihatnya dari dalam kelas. Aku hafal betul jacketnya, tasnya, gantungan kunci yang menggantung di tasnya, saputangannya, sepatunya, dan bajunya yang kebesaran. Jarang ku lihat ia memegang handphone-nya. Ia lebih sering menatap lapangan sekolah di bawah dari balkon. Hidungnya mancung. Kulitnya putih. Tidak terlalu tinggi. Selalu kelihatan sederhana dan tidak ingin mencolok atau diperhatikan orang lain. Yang paling aku suka darinya adalah alisnya yang tebal. Suatu nikmat terbesar dari Tuhan karena bisa melihatnya, walau dari jauh. Aku yakin, kata-kata yang ku tulis ini belum mampu mewakili perasaanku saat bertemu dengannya.


06.01.2015
Rizki Fatmala
Salam canggih dari orang yang selalu berusaha untuk canggih ^^

Minggu, 15 Juni 2014

불러본다 (Calling Out) - German Translation

신데렐라 언니 (KBS수목드라마) OST Part 1
크리스탈 & 루나
Cinderella's Stepsister (KBS Mon-Tue Drama) OST Part 1
 Krystal & Luna
Korean (가사) 
나를 깨우는 외로움에
지쳐버린 잠에서 깨면
여전히 웃는 그대가 생각나서
나도 몰래 미소 짓는데



이렇게 사랑은 가고
아름다운 계절이 오면
니가 남긴 슬픔에 그리움에
나는 거릴 걷는다

하루 하루 살아가다가
그대 이름에 눈물이 나면
참을 없어
이렇게 웃을 없어
그대 이름 불러 본다


가슴에 남은 상처도 이젠
그대 일은 잊으라는데
입술을 깨물고 참아봐도
사람 하나 뿐인걸



하루 하루 살아가다가
그대 이름에 눈물이 나면
참을 없어
이렇게 웃을 없어
그대 이름 불러 본다


아무렇지 않게 살아가다가
사랑이 그리울 때면
그대가 남긴 아픔에
나도 모르게 눈물 흘리네


하루 하루 살아가다가
그대 이름에 눈물이 나면
참을 없어
이렇게 웃을 없어
그대 이름 불러본다

English (Lyric) 
When I wake up from the
loneliness that wakes me up
I think about their always smiling face
which makes me smile without knowing


Like this another person leaves
and when another beautiful season arrives
with the sadness and longing for you which you left behind
I walk down this street again


Day after day as I live my life
I get teary after hearing his name
I can't hold it in, I can't laugh like this
I try calling his name again


With the scar he left on my heart
I'm trying to forget his name
although I bite my lips trying to hold it in
my love is only you


Day after day as I live my life
I get teary after hearing his name
I can't hold it in, I can't laugh like this
I try calling his name again


I live my life pretending nothing has happened
When I'm longing for love
with the hurt he has left behind
I start to cry without knowing


Day after day as I live my life
I get teary after hearing his name

I can't hold it in (can't hold it in)
I can't laugh like this
I try calling his name again


Indonesia (Lirik) 
Ketika aku terbangun dalam kesepian
Aku bangun dari tidur yang membuatku lelah
Aku teringat pada wajahnya yang selalu tersenyum
Yang tanpa sadar juga membuatku tersenyum

Sekali lagi cinta itu pergi seperti ini
Dan ketika musim yang indah berikutnya datang
Dengan kesedihan dan kerinduan padamu yang tertinggal
Aku hanya bisa berjalan di jalan ini lagi

Hari demi hari aku terus menjalani hidupku
Aku selalu menitikkan air mata ketika mendengar namanya
Aku tidak bisa menahannya,
aku tidak bisa tertawa seperti ini
Aku coba untuk memanggil namanya lagi

Dengan luka yang ia tinggalkan di hatiku
Aku berusaha melupakan namanya,
Walaupun aku menggigit bibirku dan mencoba bertahan
Cintaku, hanyalah kamu


Hari demi hari aku terus menjalani hidupku
Aku selalu menitikkan air mata ketika mendengar namanya
Aku tidak bisa menahannya,
aku tidak bisa tertawa seperti ini
Aku coba untuk memanggil namanya lagi

Aku menjalani hidup ini dengan berpura-pura
kalau tidak ada apapun yang terjadi
Ketika aku merindukan cinta
dengan luka yang ia tinggalkan
Tanpa sadar aku pun mulai menangis

Hari demi hari aku terus menjalani hidupku
Aku selalu menitikkan air mata ketika mendengar namanya
Aku tidak bisa menahannya,
aku tidak bisa tertawa seperti ini
Aku coba untuk memanggil namanya lagi

German (Lyrik) 
Wenn mich die Einsamkeit aus meinem erschöpften Schlaf weckt 
Dann denke ich an ihre immer lachenden Gesichter,
die mich auch lächeln lassen, ohne das ich es bemerke.


So, geht auch eine weitere Person
Und wenn eine neue schöne Jahreszeit beginnt,
Gehe ich diese Straße wieder entlang,
mit der Traurigkeit und Sensucht, die du zurück ließt.
 
Tag für Tag während ich mein Leben lebe,
Werde ich weinerlich, wenn ich seinen Namen höre.
Ich kann es nicht unterdrücken,
Ich kann nicht so lachen.
Ich versuche seinen Namen wieder zu rufen
 
Mit der Narbe, die er auf meinem Herzen hinterließ,
Ich versuche seinen Namen zu vergessen.
Obwohl ich mir auf die Lippen beiße und versuche für mich zu behalten,
Bist du meine einzige Liebe

Ich lebe mein Leben, so tuend
Als ob nichts passiert wäre.
Wenn ich mich nach der Liebe sehne, mit dem Schmerz den er zurück ließ,
fange ich ohne es zu wissen, dass weinen an.

작사 (Lyrics): 김지수 (Kim Jisu), 이윤종 (Lee Yoon Jong)
작곡 (Composer): 김지수 (Kim Jisu),박준수 (Park Junsu)
Full Credit :
Korean - Daum Music
English - SugarCookie@aff(x)tion
Indonesia - Mozalonely (dengan perubahan sesuai fungsi estetis dan emotif menurut saya)
German - Keksdose SubsSongs (diterjemahkan atas request dari saya lho!)